Senin, 01 Maret 2021

Langit Kelabu Di Selatan Seoul

suasana di kota Gwangju pada bulan Mei 1980
sumber : www.bbc.com


Besi roda empat itu menjadi saksi bisu adanya pertumpahan darah di kota bagian selatan Seoul. Juru Berita ARD Germany pun ikut menyaksikan kericuhan yang terjadi di kota bagian Selatan Seoul.

Hampir seperempat juta orang turun ke jalan memenuhi isi kota Gwangju setelah Kepala KCIA (Korean Central Intelligence Agency) menyebarluaskan darurat militer di seluruh penjuru Negeri Ginseng, Jendral Chun Doo Hwan menutup kampus-kampus di seluruh penjuru kota bagian barat daya Korea Selatan itu.

sumber : m.kumparan.com


Dari seperempat juta orang itu, ada sekitar 600 mahasiswa dan beberapa penduduk yang ikut berbaris memenuhi area Universitas Nasional Chonnam dan Universitas Chuson sebagai unjuk rasa atas kezaliman yang telah dilakukan terhadap tiang penyangga perguruan tinggi. Sayangnya, mereka malah dipukuli dan dianiaya oleh aparat bersenjata. Kejadian yang terjadi pada tanggal 18 Mei 1980 ini membuat kericuhan semakin berlarut-larut.

Pada masa itu Negeri Gingseng sedang ada dibawah pimpinan Choi Kyu Hah. Meskipun saat itu pemimpin resminya adalah Choi Kyu Hah, Namun Jendral Chun Doo Hwan lah pemegang kekuasaan yang sebenarnya.

Atas perizinan Amerika Serikat, Jendral Chun Doo Hwan memerintahkan pasukan khusus baret hitam datang ke kota bagian selatan Seoul. Saat pasukan baret hitam sudah tiba di kota itu, pasukan baret hitam mulai membantai para pejuang demokrasi. Tadinya bermaksud untuk menertibkan para pejuang demokrasi itu tapi yang terjadi malah semakin bertambah jumlah orang yang ikut dalam kericuhan itu.

Saat kericuhan masih terus bergulir, para pejuang demokrasi itu masuk ke gedung kantor aparat keamanan. Mereka juga masuk ke sebuah ruangan yang berisikan senjata-senjata untuk menyita senjata itu. Para pejuang demokrasi itu melapisi dirinya dengan pipa, palu, pisau, bom Molotov, serta apapun yang mereka temukan disana. Mereka mempertaruhkan nyawanya kepada 18.000 aparat keamanan dan 3000 pasukan baret hitam.

Dua hari setelah kejadian itu, surat kabar Buletin Militan diluncurkan untuk menentang isi dari surat kabar Chuson Ilbo yang mengecap para pejuang demokrasi sebagai preman bersenjata. Surat kabar Chuson Ilbo itu dikelola oleh pemerintah.

Jürgen Hinzpeter
sumber : www.koreatimes.co.kr

Kerusuhan yang terjadi di kota bagian selatan Seoul itu terdengar sampai ke telinga seorang jurnalis ARD Germany. Kala itu, Jürgen Hinzpeter yang sedang berada di Negeri Sakura langsung terbang bersama teknisi suaranya yang bernama Henning Rumohr menuju sebuah provinsi yang berada di bagian selatan Seoul. Kamera yang dibawa oleh Hinzpeter hanya bisa merekam visualnya saja, maka dari itu ia membawa Henning Rumohr pergi bersamanya untuk membantunya membawa peralatan audio.

Saat berada di Pelabuhan Udara Negeri Gingseng, mereka menaiki besi roda empat yang dikendarai oleh pria paruh baya bernama Kim Sa Bok untuk perjalanannya menuju kota bagian selatan Seoul. Sudah satu jam berlalu tapi dari dalam besi roda empat itu mereka melihat serangkaian petunjuk untuk memutar arah. Tanda itu tak membuat Kim langsung berputar arah, justru Kim tetap terus mengemudikan mobilnya mengarah ke jalan itu.

Di pertengahan jalan, besi roda empat itu berhenti di sebuah pos pasukan bersenjata. Pasukan bersenjata yang berjaga memerintahkan mereka untuk memutar arah. Namun Kim tidak menyerah begitu saja. Kim melaju ke desa terdekat, dan warga sekitar menyarankannya untuk melewati jalur yang sempit dan berliku-liku sebagai jalur alternatif menuju Gwangju. Sayangnya, mereka harus melewat sebuah pos pasukan bersenjata lagi. Hinzpeter mencoba mengarang cerita bahwa atasannya terjebak di Gwangju dan memerlukan bantuannya untuk keluar dari kota itu, tentara yang berjaga mempercayainya. Akhirnya mereka bisa melanjutkan perjalanannya ke kota bagian selatan Seoul.

Sesampainya di kota bagian selatan Seoul, mereka melihat banyak tetesan darah yang terus mengalir membanjiri kota itu. Para pasukan bersenjata itu menganiaya para pejuang demokrasi itu tanpa pandang bulu,, tak ada ampun bagi siapapun yang terlibat dalam kericuhan itu. Di belakang rumah sakit, orang-orang berhamburan mencari kerabat serta orang yang mereka cintai dengan membuka satu per satu peti mati yang sudah dijejerkan. Saat itu saluran telepon telah diputus oleh militer, alhasil para juru berita terpaksa menempuh perjalanan cukup jauh untuk mengontak dunia luar.

Pada tanggal 21 Mei saat matahari mulai terbenam, pemerintah mengumumkan mereka menarik diri dari kegaduhan. Penduduk kota kebudayaan itu mengatakan kalau di kota itu sudah tidak dikuasai lagi oleh para pasukan baret hitam.

Setelah Jurnalis ARD Germany itu berhasil mendapatkan rekaman situasi di kota bagian selatan kota Seoul kala itu, mereka pun kembali ke ibukota. Hinzpeter menyembunyikan filmnya ke dalam sebuah kaleng berukuran besar yang dibungkus dengan kertas berwarna emas dan pita hijau, sehingga dia bisa membohongi petugas keamanan bahwa bungkusan itu adalah kado pernikahan. 

Keesokan harinya, Rekaman dari Jürgen Hinzpeter diterbangkan ke Negeri Sakura. Akhirnya rekaman itu bisa ditonton oleh seluruh dunia dan membuktikan kekejaman yang telah dilakukan oleh aparat dan rezim pasukan bersenjata di kota bagian selatan Seoul. Hari telah berganti namun ketenangan di kota bagian selatan Seoul itu hanya berlangsung selama 6 hari.

Pada tanggal 27 Mei pasukan anggota bersenjata Chun Doo Hwan mulai menyusup ke kota bagian selatan Seoul. Kendaraan militer yang berlapis baja dan sebuah pesawat dengan baling-baling besar diturunkan ke jalan dan hanya dalam waktu 2 jam anggota bersenjata itu berhasil memusnahkan kericuhan yang terjadi di kota bagian selatan Seoul.

Tak terhitung jumlah rincian dari peristiwa pertumpahan darah di kota bagian selatan Seoul itu yang belum diketahui. Termasuk jumlah korban jiwa dari pertumpahan darah yang terjadi pada waktu itu. Sekitar 200 orang dikabarkan menghembuskan nafas terakhirnya pada saat mereka memperjuangkan demokrasi, namun penduduk menyangkal dan mengatakan bahwa jumlah yang sebenarnya itu jauh lebih banyak daripada yang diumumkan oleh pemerintah.

Belum lagi saat Negeri Ginseng itu sedang mengalami kehampaan kewenangan di tahun 1979. nyawa seorang pemimpin Negeri Gingseng yang ke 3 itu dilenyapkan oleh Brigadir Jenderal Chun Doo Hwan pada tangga 26 Oktober 1979. Dengan kejam Jenderal Chun Doo Hwan menggulingkan kekuasaan pemerintahan kepadanya secara tiba-tiba. Saat ia sudah menduduki kekuasaan itu, di bulan April 1980 dia mulai merayu pemimpin Negeri Gingseng ke 4 untuk mengangkatnya menjadi kepala KCIA (Korean Central Intelligence Agency). Dan 1 bulan telah berlalu, Chun Doo Hwan akhirnya menyebarluaskan darurat militer yang mengakibatkan lebih dari selusin nyawa penduduk kota bagian selatan Seoul itu hilang dalam kejadian yang sangat tragis.

Walaupun pada masa itu warga sipil belum berhasil memperjuangkan demokrasi, atas keberanian Juru Berita ARD Germany yang telah melaporkan kejadian di kota bagian selatan Seoul pada waktu itu Dan dia mendapat penghargaan pada tahun 2003 dari asosiasi jurnalis dan kelompok - kelompok pro-demokrasi Korea Selatan.


Pemakaman Nasional 18 Mei 
sumber : m.kumparan.com


Pemakaman Nasional 18 Mei
sumber : m.kumparan.com

Taman peringatan 18 Mei 
sumber : xn--ok0b236bp0a.com

Kejadian di kota bagian selatan Seoul pada waktu itu merupakan perjalanan yang penuh rintangan menuju sebuah demokrasi dan untuk mengenang para pejuang demokrasi yang telah mempertaruhkan nyawanya, pemerintah mendirikan 5.18 기념공원 atau bisa disebut juga dengan Taman peringatan 18 Mei. Selain itu ada juga 국립 5.18  만주묘지 yang artinya Pemakaman Nasional Gerakan Demokrasi 18 Mei. 

monumen Jürgen Hinzpeter 
sumber : www.nytimes.com


Serta didirikanlah sebuah monumen Jürgen Hinzpeter di Pemakaman Nasional 18 Mei untuk mengenang sekaligus mengantarkan penghormatan kepadanya karena ia telah meluaskan kabar yang terjadi di kota bagian selatan Seoul kepada seluruh dunia. Di dalam tonggak itu terdapat potongan kuku dan rambutnya yang telah ia serahkan saat ia mengunjungi kota bagian selatan Seoul pada tahun 2005.

Chun Doo Hwan 
sumber : www.latimes.com


Dan pada bulan Agustus 1996, Chun Doo Hwan yang merupakan dalang dibalik peristiwa tragis itu telah dijatuhi hukuman mati. Namun dalang dibalik peristiwa tragis itu telah mendapat keringanan dari sang pemimpin Negeri Gingseng ke 7. Dia dibebaskan dari geruji besi pada bulan Desember 1997.



Sumber Referensi

https://www.britannica.com/event/Kwangju-Uprising

https://amp.tirto.id/kisah-taksi-kuning-dan-pembantaian-mahasiswa-gwangju-1980-cxNZ

https://www.nytimes.com/2017/08/02/world/asia/south-korea-taxi-driver-film-gwangju.html

https://www.518archives.go.kr/eng/?PID=011

https://m.kumparan.com/korea-chobo/mengenang-pejuang-pemberontakan-gwangju-di-tempat-tempat-ini

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-43516065.amp

https://m-en.yna.co.kr/view/PYH20160516088500341

https://namu.wiki/w/%ED%97%A4%EB%8B%9D%20%EB%A3%A8%EB%AA%A8%EC%96%B4


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGUKIR AKSARA DI ATAS AIR

Terdengar suara rintihan tangis di tengah derasnya hujan. Kuhampiri dan kutemukan seorang gadis yang dipenuhi dengan duri dan lumpur. Perasa...